Pemburu Kepala Manusia Jaman Dulu di Kalimantan Disaksikan Langsung Wanita Eropa - WWW.CAKUPAN.COM
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemburu Kepala Manusia Jaman Dulu di Kalimantan Disaksikan Langsung Wanita Eropa

 

Litografi berjudul On the Head Hunting karya Carl Alfred Bock, yang melukiskan seorang lelaki Dayak dengan peranti berperang. (Carl Alfred Bock/Head Hunters of Borneo)

www.cakupan.com

Mengerikan, Aksi Pemburu Kepala Manusia di Kalimantan Disaksikan Langsung Wanita Eropa, Begini Kisahnya.


Seorang wanita asal Eropa menjadi saksi, tentang pemburu kepala manusia di Kalimantan.


Diketahui, sosok wanita asal Eropa yang jadi saksi adanya pemburu kepala manusia di Kalimantan bernama Ida Pfieffer.


“Kami menjumpai laut yang tidak menyenangkan,” ungkap Ida Pfieffer dalam catatan perjalanannya di Borneo pada Januari 1852.



“Laut itu mengirimkan ombak yang menyapu kami, sehingga separuh perahu terisi air.”


Setelah berjuang beberapa jam, akhirnya mereka mendapatkan aliran sungai yang tenang.


Ida, pelancong asal Austria, bersama seorang pemandu Melayu, meninggalkan Kuching menuju kawasan Iban dengan berperahu menyusuri Sungai Batang Lupar, Sarawak.


Tujuan pertama mereka adalah sebuah benteng di Skrang yang lokasinya sembilan jam dari tempat mereka berada saat itu.


Litografi berjudul On the Head Hunting karya Carl Alfred Bock, yang melukiskan seorang lelaki Dayak dengan peranti berperang. (Carl Alfred Bock/Head Hunters of Borneo)


Komandan Alan Lee, menyambut kedatangan mereka. Dalam catatannya, Ida berkisah, benteng itu terbuat dari kayu dan berdinding pagar dari tanah. Ada sekitar 30 orang pribumi yang menjadi serdadu.


“Namun, perhiasan paling mewah adalah kalung dan gelang tangan dari gigi manusia.”


Kedatangan Ida menjadi tontonan lantaran bagi warga pedalaman Borneo, tampaknya dia merupakan sosok aneh bagi mereka.


Dialah perempuan kulit putih pertama yang mereka lihat. Pada kenyataannya memang demikian.


Ida Pfeiffer memang perempuan Eropa pertama yang menjelajahi pedalaman hutan Borneo, sekitar tiga dekade sebelum penjelajah asal Norwegia, Carl Bock.

Ida Laura Reyer Pfeiffer mengenakan syal dan kain renda. Ida sangat ingin mengatasi keterbatasannya sebagai seorang wanita dari abad ke-19, tetapi dia tidak sepenuhnya menentang kodratnya. Globe di latar belakang menambah sentuhan ilmiah. (Mary Somers Heidhues/Archipel/Wikimedia)


Litografi berjudul On the Head Hunting karya Carl Alfred Bock, yang melukiskan seorang lelaki Dayak dengan peranti berperang. (Carl Alfred Bock/Head Hunters of Borneo)


Hari berikutnya, Ida mengunjungi perkampungan Dayak bersama Komandan Lee.


“Saya menjumpai pondokan besar, panjangnya sekitar 60 meter."


"Ada sejumlah barang tersebar melimpah di dalamnya,” ungkapnya.


“Saya berminat membelinya, apabila ada diantara mereka yang menjualnya.”


Ida menyaksikan ragam barang: Kain katun, bahan-bahan dari kulit pohon, anyaman tikar, anyaman keranjang hingga parang dan peralatan logam lainnya.


Seorang Dayak pemburu kepala di Borneo sekitar 1900-1912. Setiap satu atau dua tahun sekali, the Dayak Iban menyelenggarakan adat Gawai Autu untuk menghormati arwah leluhur yang dipercaya berada di sekeliling kepala yang tergantung di rumah mereka.


Dalam upacara adat itu mereka berharap mendapatkan berkah dan keberuntungan.


Litografi berjudul On the Head Hunting karya Carl Alfred Bock, yang melukiskan seorang lelaki Dayak dengan peranti berperang. (Carl Alfred Bock/Head Hunters of Borneo)


Seorang Dayak pemburu kepala di Borneo sekitar 1900-1912. Setiap satu atau dua tahun sekali the Dayak Iban menyelenggarakan adat Gawai Autu untuk menghormati arwah leluhur yang dipercaya berada disekeliling kepala yang tergantung di rumah mereka. Dalam upacara adat itu mereka berharap mendapatkan be (Charles Hose/Tropenmuseum)

Ida berkisah tentang orang-orang Dayak pada masa itu, yang barangkali tak jauh berbeda dengan budaya mereka kini.


Leher dan dada para lelakinya berhiaskan manik-manik kaca, kerang, dan gigi beruang madu. Pergelangan lengan dan kaki berhiaskan gelang kuningan. Kuping mereka ditindik, dan kadang berhias selusin lebih gelang.


“Beberapa dari mereka mengenakan gelang yang bertatakan kerang putih yang bernilai tinggi,” ungkapnya.


“Namun, perhiasan paling mewah adalah kalung dan gelang tangan dari gigi manusia.”


Meski begitu, ungkap Ida, para perempuannya tampak lebih sederhana dalam perhiasan.


Litografi berjudul On the Head Hunting karya Carl Alfred Bock, yang melukiskan seorang lelaki Dayak dengan peranti berperang. (Carl Alfred Bock/Head Hunters of Borneo)


Mereka tak beranting, tak bergigi beruang, dan sangat sedikit mengenakan manik-manik. Para perempuan tersebut mengenakan semacam semacam korset seukuran sejengkal tangan yang berhias ornamen kuningan dan cincin berwarna gelap.


“Saya mencoba mengangkat satu perhiasan itu dan saya tak menduga bahwa beratnya sekitar empat kilogram.”


Pada hari yang sama, dia juga berkunjung ke tetangga desa Dayak tadi. Tidak ditemukan banyak perbedaan soal tata busana mereka.


“Kecuali, saya punya kesenangan baru di sini,” ujarnya,


“Melihat sepasang trofi perang nan ganteng dari dua kepala manusia yang baru saja ditebas.” lanjutnya.


Kedua kenang-kenangan atas kemenangan perang itu baru diperoleh beberapa hari sebelumnya dan menampakkan pemandangan yang mengerikan.


Kepala itu nantinya diasap hingga dagingnya setengah matang, bibir dan telinga secara adat melayu.


“Kepala-kepala itu tetap dengan rambutnya,” demikian kisah Ida,


“Dan salah satu kepala itu bahkan matanya membelalak.”


“Melihat sepasang trofi perang nan ganteng dari dua kepala manusia yang baru saja ditebas.”


Mereka mengeluarkan trofi kepala itu dari keranjang, yang kemudian menggantungnya untuk memamerkan dengan rasa puas dan bangga kepada Ida.


Tradisi mengayau, berburu kepala musuh untuk dijadikan trofi, tampaknya telah menjadi bagian suku-suku pedalaman di Hindia.


Setelah menyaksikan semua adegan liar itu, Ida merenung, apakah berarti orang Eropa seperti dirinya jauh lebih beradab dari mereka?


Bukankah dalam setiap lembaran sejarah Eropa diwarnai dengan perbuatan mengerikan pengkhianatan dan pembunuhan, demikian kecamuk pertanyaan dalam benaknya.


Apa yang akan kita katakan tentang perang religius antara Jerman dan Prancis, penaklukkan Amerika, pertumpahan darah di Timur Tengah, hingga Inkuisisi Spanyol?


Bagi Ida, tampaknya melancong tidak sekadar berpindah tempat, tetapi juga menuntunnya supaya punya pemikiran terbuka tentang ragam peradaban dan kerendahan hati.


“Saya tidak berpikir bahwa kita orang Eropa dapat berkata banyak tentang kebiadaban ini,” paparnya.


Menurutnya, bangsa Eropa juga membunuh musuh dan bahkan menyiksa musuh mereka dengan berbagai alat dan cara penyiksaan.


Sementara, orang-orang Dayak membunuh musuh tanpa menyiksanya.


“Dan apa yang telah mereka lakukan, mungkin kita dapat memaafkan mereka yang tidak mendapat pencerahan agama dan budaya intelektual,” pungkasnya.


Kisah ini merupakan cuplikan dari A Lady's Second Journey Round the World: From London to the Cape of Good Hope, Borneo, Java, Sumatra, Celebes, Ceram, the Moluccas, Etc., California, Panama, Peru, Ecuador, and the United States, Volume 1.


Buku tersebut merupakan catatan perjalanan Ida Laura Reyer Pfeiffer yang terbit di London pada 1855.


#source


Posting Komentar untuk "Pemburu Kepala Manusia Jaman Dulu di Kalimantan Disaksikan Langsung Wanita Eropa"